. . .

Welcome to my little blog. I just want to share some notes. Notes about me, my blog, and all the things I loved. I loved Taiwanese drama, Chinese drama, and mandarin songs. If you already read my post, leave your COMMENT and VOTE please. I need your opinion to be better. (^.-)/
If you want to request some notes, you can send me email, or contact me in social network. I active in FB account Lintang Nolscore. I'm waiting for you! \(^.^)/ Oh ya, don't forget to inbox me! ^^

Monday, 16 May 2016

Café Waiting Love : Penantian Jerapah untuk Kaos Kaki Hijau .

diresensi oleh notes_maker



Judul Asli : 等一個人咖啡
Judul Novel : Café Waiting Love
Penulis : Giddens Ko
Penerjemah : Julianti
Penyunting : Arumdyah Tyasayu
Desainer Cover : Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit : Haru
Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal : 404 halaman
ISBN : 978-602-7742-70-3
Notes : ✦✦✦✦✦
Dalam hidup ini,
ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang,
dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran.
Tapi aku tahu bahwa seseorag yang percaya pada cinta
seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.

Di dalam sebuah café kecil,
Setiap orang sedang menunggu seseorangnya.
(ʃƪ ˘ ³˘) 
Mungkin kisahnya baru akan dimulai di halaman terakhir buku ini.
Itu saja sudah suatu harapan yang besar.
            Penggalan prolog yang begitu menusuk hati, tapi kalimat itu tidak menjatuhkan feel pembaca, bahkan semakin membuat pembaca penasaran. Novel Café Waiting Love ini telah diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar berjudul sama, yang diperankan oleh Vivian Sung dan Bruce Hung. Berkisah tentang sebuah kafe yang dipenuhi kepingan mozaik cinta yang siap disusun. Dari kafe tersebut kisah demi kisah teruntai, ada kisah yang baru dimulai, ada pula kisah yang telah berakhir. 

            Kisah ini mengambil sudut pandang dari seorang wanita bernama Si Ying. Diceritakan bahwa Si Ying adalah seorang siswi SMA tingkat akhir. Ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe bernama Waiting Love. Berkat kafe itu, Si Ying bertemu dengan banyak orang yang memiliki kisah yang berbeda.
Setiap orang sedang menunggu seseorangnya (Café Waiting Love)
Orang pertama yang muncul dalam novel ini bernama Albus. Albus adalah seorang lesbian yang sangat lihai membuat berbagai jenis kopi. Dia adalah rekan kerja Si Ying. Ada pula Nyonya Bos, pemilik Cafe Waiting Love. Rutinitas Nyonya Bos setiap harinya hanya membuat dua gelas kopi Racikan Spesial Nyonya Bos dan menunggu seseorang. Selain Albus dan Nyonya Bos, Si Ying juga bertemu dengan seorang lelaki pencinta Kenya. Namanya Ze Yu, dia adalah pujaan hati Si Ying. (=^.^=)
Cukup lama Si Ying mengagumi Ze Yu, tapi novel ini bukan kisah cinta antara Si Ying dan Ze Yu. Ada satu tokoh lagi yang baru muncul di Bab 3 novel Café Waiting Love. Dia adalah A Tuo, seorang anggota klub seluncur Universitas Tsing Hua. A Tuo memiliki riwayat cinta yang dapat dibilang cukup lucu sekaligus miris. Pacar yang dicintainya, berpaling pada seorang lesbian. Riwayat cinta A Tuo bagaikan sebuah legenda di Universitas Tsing Hua.
A Tuo, seseorang yang telah ditertawakan selama bertahun-tahun, dianggap sebagai lelaki yang kehilangan kejantanannya.
Di usia 22 tahun kehidupannya yang indah tamat lebih awal. (Café Waiting Love, hlm 48)
            Legenda itu juga terdengar sampai ke telinga Si Ying. Awalnya Si Ying juga menertawakan kisah cinta tragis milik A Tuo. Namun, saat melihat A Tuo berkunjung ke Café Waiting Love, hati kecil Si Ying tergerak. Si Ying sepertinya tidak tega melihat wajah lugu A Tuo menjadi bahan lelucon terus-menerus. Sebuah pembelaan dari Si Ying, membuka jalan bagi kisah A Tuo kembali cerah. 

            Mulai hari itu, Si Ying menjadi teman A Tuo. A Tuo mengajak Si Ying berkenalan dengan orang-orang di kehidupannya. Paman dan Bibi pisau emas, pemilik toko laundry yang setiap akhir pekan menyajikan makan lezat untuk A Tuo. Abang Bao, seorang mafia yang memiliki sebuah studio film dalam sepetak apartemennya. Ada juga Cangzi, seorang gamer sejati dia bahkan memiliki banyak mesin permainan!
Aku selalu mengatakan, kalau aku mengenal seseorang yang memiliki rasa keadilan yang tinggi. Seorang gadis yang sangat berani. Dia bernama Si Ying, “Si” dari kata rindu, “Ying” dari kata kunang-kunang. (Café Waiting Love, hlm 215)
            Suatu hari Si Ying dan A Tuo berkunjung ke Cangzi, kemudian bermain mesin penjepit boneka. Berulang kali mereka mencoba, akhirnya Si Ying mendapatkan boneka Jerapah sedangkan A Tuo mendapatkan sepasang kaos kaki hijau. Hahahaa (^o^)>

            Si Ying telah berhasil lulus menjadi mahasiswi di tempat Ze Yu kuliah, yaitu Universitas Chiao Tung. Si Ying menjadi semakin dekat dengan Ze Yu, sedangkan A Tuo mulai didekati seorang primadona bernama Baija. Bagaimana kelanjutan kisah Si Ying dan A Tuo? Apakah mereka bersatu? Dan bagaimana akhir penantian Nyonya Bos?
Aku ingat Cangzi pernah berkata, barang pertama yang berhasil dijepit oleh seseorang adalah gambaran kehidupan dari orang itu.
Kehidupanku adalah seekor jerapah yang lehernya robek itu, sedangkan kehidupan A Tuo adalah sepasang kaos kaki hijau yang sangat aneh ini.
Aku tidak lagi menangis, malah akhirnya tertawa. (Café Waiting Love, hlm 366)
(ʃƪ ˘ ³˘)

            Saat pertama ku melihat promo novel Café Waiting Love ini di Fanpage Penerbit Haru aku sangat terkesima. Dua bulan sebelum novel ini rilis, film adaptasinya menjadi bahan pembicaraan para mandarin lovers. Sehingga aku sangat tertarik dengan novel ini. Selain kisahnya yang tak biasa, covernya sangat luar biasa. Salut sama mas Bambi, sketchnya indah sekali.

            Novel ini adalah novel karya Giddens Ko kedua yang aku baca. Karena aku dulu suka YATAoME lewat filmnya. Nah,aku mau coba baca novelnya dulu baru filmnya. Saat aku pertama membuka prolognya langsung terpesona. Konsep novel ini mirip novel Dilan. Tokoh utama perempuannya diceritakan sebagai sang penulis novel yang sedang menjalani rutinitas kesehariannya. 


            Jujur awalnya sempat ragu mau baca novelnya dulu, takut ekspektasiku pecah. Ternyata keraguanku memudar seiring tokoh A Tuo muncul di alur ceritanya. Sepertinya Giddens kurang menonjolkan sisi humornya dalam novel Café Waiting Love ini. Tapi hal itu tidak mengurangi kekagumanku pada Giddens.

            Sangat banyak sifat A Tuo yang bikin aku terkesan. Dia polos, effortless, dan terlalu tulus, dia tanpa ragu mengharapkan Si Ying meraih cinta Ze Yu. Aku juga gak habis pikir, dia bisa mempunyai banyak sekali kenalan orang-orang hebat. Seandainya benar-benar ada sosok seperti A Tuo di dunia ini, aku ingin bertemu dia bahkan ingin menjadi temannya. Selain itu aku suka sosok Si Ying, dia cewek banget. Hahaha (ᗒᗜᗕ) Walaupun dia mengendarai motor King yang terlihat boyish banget, tapi emosinya tetap kayak ibu-ibu alias cerewet. Dia juga tetap terpesona oleh sosok Ze Yu dan tersentuh oleh ketulusan A Tuo.
Berlian butuh diukir dan diasah baru bisa mejadi berkilauan,
Tetapi A Tuo dapat menjadi hebat dengan sendirinya (Café Waiting Love, hal 243)
            Ketika aku telah sampai di dua bab terakhir, aku tak rela kisah ini akan berakhir. Rasanya aku ingin terus membaca kisah Si Ying dan A Tuo, terlepas dari kisah cinta atau hanya kisah persahabatan mereka. Namun, racikan spesial Li Si Ying telah menutup paksa kisah ini. ╥﹏╥

            Selain kisah Si Ying dan A Tuo, aku juga sangat suka kisah Nyonya Bos pemilik kafe. Satu bab penuh diisi oleh kisah Nyonya Bos dan kekasih masa lalunya. Sangat menyetuh, sampai membuatku menitikan air mata. Hmm, hal itu aku rasakan kembali saat aku membaca catatan akhir Giddens Ko. Catatan dimana ada seluruh rahasia terbuka, tentang bagaimana novel ini dimulai dan tentang siapa A Tuo sebenarnya. Agak tragis memang, ╥﹏╥
A Tuo, aku akan selalu, selalu, dan selalu menggunakan cerita untuk menyambung kehidupanmu.
Jika kau merasa apa yang kutulis tentangmu tidak cukup keren, saat bertemu lagi di kehidupan selanjutnya kau boleh memukulku satu kali – Giddens Ko
            Five Notes, untuk seluruh kepingan mozaik yang begitu menyentuh bahkan menusuk hati. Yang suka banget novel Dilan, bakal lebih suka novel Café Waiting Love ini. Novel ini sungguh novel yang keren. Pengyoumen~ harus baca novelnya dulu baru filmnya. Hihihiii (´⌣`ʃƪ)

No comments:

Post a Comment

Hello, Pengyoumen~
I'd like to say thank you for visit my little blog, read my notes. Hope we can be friend although we aren't face to face. Please enjoy. If any question or comment you want me know, write here (^.^)/
Teman-teman sebangsa dan setanah air~
Kalau kalian ada pertanyaan yang masih terpendam dalam hati, tentang blog mini milikku atau ingin lebih tahu tentang dunia mandarin lovers. silahkan tulis disini. <(~,^)/
-
Don't forget to write your name,
Tinggalkan namamu, buat arsip. Hehehee~